Wednesday, May 2, 2012

Softskills Mata Kuliah Pendidikan Kewiraan dan Kewarganegaraan

WAWASAN  NASIONAL  DAN  PERWUJUDANNYA  DALAM  KETAHANAN  NASIONAL


A. Wawasan Nusantara
Wawasan nusantara merupakan cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan bentuk geografinya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam pelaksanaannya, wa-wasan nusantara mengutamakan kesatuan wilayah dan menghargai kebhinekaan dalam rangka mencapai tujuan nasional. 

Tujuan nasional bangsa Indonesia sendiri adalah untuk melindungi segenap bangsa In-donesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Wawasan nusantara merupakan sebuah konsep. Sebuah konsep perlu dilaksanakan dalam bentuk nyata, sehingga sebuah konsep bukanlah hanya pemikiran, namun nyata dalam pelaksanaannya.

Wawasan nusantara sebagai konsep, mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut:

  1. Wawasan nusantara sebagai konsepsi ketahanan nasional, yaitu wawasan nusantara dijadikan konsep dalam pembangunan nasional, pertahanan keamanan dan kewi-layahan 
  2. Wawasan nusantara sebagai wawasan pembangunan mempunyai cakupan kesatuan politik, kesatuan ekonomi, kesatuan social dan ekonomi, kesatuan social dan politik, dan kesatuan pertahanaan dan keamanan. 
  3. Wawasan nusantara sebagai wawasan pertahanan dan keamanan Negara merupakan pandangan geopolitik Indonesia dalam lingkup tanah air Indonesia sebagai satu ke-satuan yang meluputi seluruh wilayah dan segenap kekuatan Negara 
  4. Wawasan nusantara sebagai wawasan kewilayahan, sehingga berfungsi dalam pem-batasan Negara agar tidak terjadi sengketa dengan Negara tetangga.

Salah satu dasar pemikiran wawasan nusantara yang berkaitan langsung dengan keta-hanan nasional yang bersumber dari dalam bangsa Indonesia sendiri adalah pada aspek social budaya. Kita tahu bahwa bangsa kita terdiri dari multi kultur. Kultur tersebut diturunkan dari generasi-generasi sebelumnya dan merupakan kewajiban bagi generasi selanjutnya untuk mengikutinya. Oleh karena itulah kultur ini sendiri sudah mendarah daging. Ketika kedewa-saan berpikir dan tingkat pendidikan tidak cukup baik, dan ketika wawasan nusantara belum diterapkan apalagi belum dipahami, hal ini merupakan titik kritis untuk terjadinya disintegrasi. Disintegrasi sendiri bertentangan dengan konsepsi wawasan nusantara.

Keberanekaragaman bangsa kita itu sendiri sebenarnya merupakan kekayaan yang tak ternilai. Seperti halnya kekayaan dalam arti sebenarnya, maka kekayaan ini jika tidak dikelola dengan benar akan menimbulkan sebuah konflik tersendiri. Gesekan-gesekan antar budaya dan suku bangsa sangat mungkin dapat terjadi, apalagi jika tingkat pendidikan dan kesadaran akan wawasan nusantara ini masih rendah. 

Ketika terjadi gesekan-gesekan antar budaya yang menimbulkan konflik dan jika sudah parah dapat menjadikan disintegrasi bangsa, maka hal ini sangat tidak sesuai dengan hakekat wawasan nusantara. Mengapa tidak sesuai? Hal ini karena hakekat wawasan nusantara itu sendiri adalah kesatuan, keutuhan nusantara atau nasional/bangsa Indonesia. Dalam penger-tian lebih lanjut adalah suatu cara pandang yang selalu utuh dan menyeluruh dalam lingkup nusantara dan ditujukan untuk kepentingan nasional. 

Hal ini berarti bahwa setiap warga Negara, bangsa dan aparatur Negara haruslah berpi-kir, bersikap dan bertindak secara utuh, menyeluruh dalam lingkup bangsa Indonesia dan de-mi kepentingan bangsa. Yang termasuk dalam pengertian ini adalah bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh lembaga Negara juga harus utuh untuk kepentingan bangsa Indonesia, bukan saja untuk kepentingan partai yang mengusungnya, atasannya, apalagi untuk kepentin-gan pribadi dan keluarganya. 

Pada kenyataannya sekarang yang terjadi adalah bahwa keutuhan ini cenderung diabai-kan oleh para petinggi dan lembaga Negara yang ada di negeri ini. Iklim demokrasi yang di-dengung-dengungkan cenderung salah kaprah, bukan lagi demokrasi, yang artinya kekuasaan tertinggi ada ditangan rakyat, namun sebagai wakil rakyat, mereka melaksanakan kekuasaan tertinggi ada ditangan pemimpin dan harta yang ditawarkan didepan mata. Pemikiran keutu-han bukanlah lagi keutuhan bangsa dan Negara, namun dipersempit menjadi keutuhan partai saja. 
Dalam pelaksanaan dan kajiannya sendiri, wawasan nusantara memiliki beberapa asas. Asas-asas ini merupakan ketentuan-ketentuan dasar yang harus dipatuhi, ditaati, dipelihara dan diciptakan agar terwujud demi tetap taat dan setianya komponen/unser pembentuk bang-sa Indonesia. Asas-asas itu antara lain adalah:

  • Kepentingan atau tujuan yang sama 
  • Keadilan 
  • Kejujuran 
  • Solidaritas 
  • Kerjasama 
  • Kesetiaan terhadap kesepakatan. 

Jika asas-asas tersebut tidak melandasasi gerak tumbuh bangsa ini dalam rangka wawasan nusantar, maka jelas artinya bahwa wawasan nusantara di negeri ini sudah mulai luntur. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah ketika asas-asas tersebut tidak jalan atau tidak dija-lankan, bagaimana dengan Ketahanan Nasional kita yang yang merupakan perwujudan nyata dari Wawasan Nusantara?. Hal seperti ini memang harus mendapatkan perhatian lebih agar Ketahanan Nasional tidak juga menjadi lemah. 

Arah dari Wawasan Nusantara kedalam ( tulisan ini memang akan membahas tentang bagaimana pengaruh suatu gejolak masyarakat Indonesia terhadap Wawasan Nusantara dan pada prakteknya pada Ketahanan Nasional kita) adalah bahwa bangsa Indonesia harus peka dan berusaha mencegah dan mengatasi sedini mungkin factor-faktor penyebab timbulnya dis-integrasi bangsa dan menupayakan agar tetap terbina dan terpeliharanya persatuan dan kesa-tuan. Tujuannya adalah menjamin terwujudnya persatuan dan kesatuan segenap aspek kehi-dupan nasional, baik aspek alamiah maupun aspek sosial. 

Sebagai sebuah konsep, Wawasan Nusantara harus diimplementasikan disegala bidang kehidupan bernegara seperti politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Wa-wasan Nusantara harus tercermin dalam pola piker, pola sikap dan pola tindak yang senantiasa mendahulukan kepentingan Negara. 

Implementasi dalam bidang politik adalah dengan menciptakan iklim penyelenggaraan Negara yang sehat dan dinamis, mewuudkan pemerintahan yang kuat, aspiratif dan dapat di-percaya. Dalam bidang sosial budaya adalah dengen menciptakan sikap batiniah dan lahiriah yang mengakui, menerima dan menghormati segala bentuk perbedaan sebagai kenyataan yang ada dan hidup disekitar kita dan merupakan karunia dari Sang Pencipta. Implementasi dalam bidang pertahanan dan keamanan adalah dengan menumbuhkan kesadaran cinta tanah air dan membentuk sikap bela Negara pada setiap WNI. 

B. Ketahanan Nasional
Ketahanan nasional sendiri merupakan salah satu praktek nyata dari konsepsi Wawasan Nusantara. Ketahanan nasional merupakan kemampuan, kekuatan, ketangguhan dan keuletan dari sebuah bangsa untuk melemahkan dan atau menghancurkan setiap tantangan, ancaman, rintangan dan gangguan. Makin tinggi tingkat ketahanan nasional suatu bangsa, maka makin kuatlah pula posisi bangsa tersebut dalam pergaulan dunia. 

Perebutan pengaruh didalam negeri jelas akan menimbulkan instabilitas pada ketahanan nasional ini. Instabilitas akan menurunkan tingkat ketahanan nasional. Hal ini karena instabi-lias menjadi sebuah rintangan dan gangguan untuk bersaing di tingkat dunia(Ketahanan na-sional salah satunya adalah merupakan daya saing di tingkat dunia ). 

Salah satu pokok pikiran dalam Ketahanan Nasional tersebut adalah bahwa manusia bermasyarakat untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya, yaitu kesejahteraan, keselamatan dan keamanan. Ketiga hal itu adalah hakekat dari ketahanan nasional yang mencakup dan meliputi kehidupan nasional, yaitu aspek alamiah dan aspek sosial/kemasyarakatan. 

Secara khusus, ketahanan nasional pastinya mempunyai rumusan dengan pengertian yang baku dalam upayanya menghadapi dinamika perkembangan dunia dari masa ke masa. Pengertian baku ketahanan nasional Indonesia adalah kondisi dinamik bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan megnatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik yang dating dari luar maupun dari dalam untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan ne-gara serta perjuangan mencapai tujuan nasionalnya. 

Oleh karena itu, ketahanan nasional adalah kondisi hidup dan kehidupan nasional yang harus senantiasa diwujudkan dan dibina secara terus menerus secara sinergi. Hal demikian itu sebaiknya dimulai dari lingkungan terkecil yaitu diri pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara dengan modal dasar keuletan dan ketangguhan yagn mampu mengembangkan kekuatan nasional. 

Konsepsi ketahan nasional Indonesia adalah konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan serta keamanan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh, menyeluruh dan terpadu berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Wawasan Nusantara. Intinya adalah pendekatan kepada kesejahte-raan dan keamanan. 

Sama seperti Wawasan Nusantara yang memiliki asas-asas, demikian pulalah dengan ketahanan nasional, salah satu asas yang harus diperhatikan adalah asas kekeluargaan (Asas yang lain adalah kesejahteraan dan keamanan, komprehensif integral atau menyeluruh terpa-du, dan mawas kedalam dan mawas keluar). Asas kekeluargaan ini mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, kesamaan, gotong royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam asas ini diakui adanya perbedaan yagn harus dikembangkan secara serasi dalam hubungan kemitraan serta dijaga agar tidak berkebang menjadi konflik yagn bersifat antagonistik yang saling menghancurkan. 

 Kondisi kehidupan nasional merupakan pencerminan ketahanan nasional yang men-cakup aspek ideology, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Artinya, jika kondisi masyarakat itu dalam keadaan gemah ripah loh jinawi, maka itu berarti ketahanan nasional kita cukup tinggi. Dengan demikian, ketahanan nasional merupakan kondisi yang harus dimiliki dalam semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam wadah NKRI yang dilandasi oleh landasan idiil Pancasila, landasan konstitusional UUD 1945, dan landasan visional Wawasan Nusantara. 

C. Kenaikan BBM dan Ketahanan Nasional dalam kerangka Wawasan Nusantara
Akhir-akhir ini banyak sekali demo menolak kenaikan BBM. Berbagai elemen masyarakat sepakat menolak kenaikan BBM ini. Memang ada yang mendukung, namun jika di-kalkulasi mungkin tidak banyak jumlahnya. Pro dan kontra memang wajar terjadi dalam di-namika sebuah pemerintahan. Sebenarnya ada apa dibalik kenaikan BBM ini?. Mungkin itu yang menjadikan pertanyaan besar bagi bangsa ini. Disatu sisi, rakyat hanya tahu bahwa kita memiliki sumber daya energi minyak yang sangat kaya, akan tetapi mengapa kita terus-menerus harus membeli BBM dengan harga yang semakin melangit. Disisi pemerintah mungkin juga didesak dari 2 kepentingan yang berbenturan, hanya saja penjelasan kepada rakyat kurang mengena, sehingga wacana kenaikan BBM pasti akan ditentang, karena dipan-dang akan menyengsarakan kehidupan rakyat yang memang harus diakui dari sebagian besar bangsa ini masih kurang. 

Kenaikan BBM ini dirasa akan semakin memperluas kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin di negeri ini. Ketika BBM bersubsidi ditujukan kepada mereka yang berada pa-da level kesejahteraan yang kurang, banyak sekali kebocoran kepada level diatasnya yang ikut menikmatinya. Hal ini jelas sekali bertentangan dengan asas dari Wawasan Nusantara, yaitu keadilan. Demikian halnya dengan asas ketahanan nasional, yaitu kekeluargaan dimana disitu pula disebut adanya keadilan, gotong royong, dan tenggang raas dalam kehidupan ber-masyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Diluluskan atau tidaknya usulan kenaikan BBM oleh pemerintah ini, akhirnya meru-pakan sebuah produk undang-undang oleh lembaga tinggi Negara kita. Ketika sekarang ke-percayaan rakyat terhadap lembaga tinggi dan tertinggi Negara sudah bisa dikatakan hangus, masyarakat menjadi sangsi apakah benar undang-undang kenaikan BBM tersebut murni se-bagai wujud dari hakekat wawasan nusantara yang menyebutkan bahwa aparatur Negara ha-rus berpikir, bersikap dan bertindak secara menyeluruh dalam lingkup dan demi kepentingan bangsa. Sekarang demokrasi yang terjadi adalah salah kaprah dimana kekuasaan tertinggi bu-kan lagi ditangan rakyat, tapi ditangan pemimpin dan partai yang mempunyai suara terbanyak. Keberadaan rakyat sudah dikesampingkan, kecuali pada saat pemilu, demikian pula suara rakyat hanya didengarkan saat pemilu, dan tidak saat mereka sudah mendapatkan posisinya. Hal ini jelas tidak sesuai dengan wawasan nusantara yang sudah diajarkan. 

Sehubungan dengan polemik ini, hubungan langsung dengan ketahanan nasional akan menurunkan tingkat ketahanan nasional kita. Hal ini karena terjadi instabilitas pada jalannya kehidupan bernegara. Politik, keamanan, ekonomi, jelas akan terpengaruh langsung dengan hal ini. Ketika terjadi kekacauan, banyak protes ketidakpuasan terhadap jalannya pemerinta-han, hal ini sendiri sudah tidak sesuai dengan implementasi dari wawasan nusantara, dimana penyelenggara Negara harus aspiratif, dan bisa dipercaya oleh pemegang kedaulatan tertinggi, yang adalah rakyat Indonesia. Ketika pemerintahan telah terkotak-kotak menjadi partai-partai yang pada awalnya katanya menjadi jalur aspirasi rakyat, namun pada akhirnya hanya sebagai kendaraan politik bagi segelintir orang Indonesia, maka penyelenggaraan Negara menjadi tidak sehat lagi. Jika pemerintahannya saja tidak sehat, apakah bisa dikatakan ketahanan nasional menjadi kuat? 

Kekuatan bersenjata di negeri ini yang seharusnya melindungi bangsa dan Negara dari ancaman pihak luar, sekarang dialihkan untuk memerangi bangsanya sendiri dengan kamuf-lase untuk menyelamatkan pemerintahan, dan menjadikan suasana menjadi kondusif. Sebe-narnya jika rakyat percaya kepada pemerintah dan kesejahteraannya terjamin, apakah mereka akan melakukan protes dan demo untuk menuntut apa yang menjadi kebijakan pemerintah?. Bagi rakyat kecil, masalah perutlah yang mendorong mereka untuk berontak kepada kebijakan Negara, bukan lebih kepada masalah politik. Ketika penyelenggara tidak bisa membawa bangsa ini menuju tujuan nasional kita, yang salah satunya adalah kesejahteraan umum, maka ketahanan nasional, yang salah satu asasnya adalah kesejahteraan dan keamanan, tidak akan pernah kuat. 

Masyarakat dan bangsa ini memang semuanya harus mengetahui apa itu wawasan nu-santara yang merupakan landasan visional bangsa ini, dan ketahanan nasional yang menjadi tanggung jawab kita semua, namun para petinggi dan mereka yang duduk dilembaga tertinggi sebagai pemegang kebijakan penentuan arah pemerintahan dan pembangunan negeri ini lebih memegang tanggung jawab lebih besar terhadap ketahanan nasional ini. 

Kesimpulannya adalah ketika rakyat ini belum berada pada tingkat kesejahteraan yang memadai, maka masalah BBM akan terus menurunkan tingkat ketahanan nasional dari bangsa ini. Keadaan ini diperparah lagi ketika terjadi kesenjangan sosial yang cukup tinggi, ketika yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin tersingkirkan.

No comments:

Post a Comment